PENGARUH PENGERINGAN ALAMI TERHADAP KADAR PESTISIDA ORGANOKLORIN PADA JERAMI PADI Oriza sativa
Sugeng Zunarto1, 2, Purwadi2, Aris Budi Prasetyo2
1 Laboratorium Kesmavet Balai Besar Veteriner Wates
2 Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Boyolali
Email: [email protected]
Abstrak
Jerami padi (Oryza sativa) merupakan limbah pertanian yang banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak ruminansia dan berpotensi mengandung residu pestisida organoklorin yang bersifat persisten dan berbahaya bagi kesehatan ternak serta keamanan pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh lama pengeringan jerami padi secara alami terhadap penurunan kadar residu pestisida organoklorin. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan waktu pengeringan, yaitu tanpa pengeringan (P0), pengeringan 6 jam (P1), 12 jam (P2), dan 18 jam (P3), masing-masing dengan lima ulangan. Parameter yang diamati meliputi kadar air, bahan kering, serta residu aldrin, Dichloro-Diphenyl-Trichloroethane (DDT), endosulfan, endrin, dan heptachlor yang dianalisis menggunakan metode QuEChERS dan Gas Chromatography–Mass Spectrometry (GC-MS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama pengeringan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap penurunan kadar residu seluruh pestisida organoklorin. Pengeringan selama 18 jam (P3) memberikan efektivitas penurunan residu tertinggi dengan hasil
Kata kunci: GC-MS, Jerami padi, Pakan ternak, Pengeringan alami, Pestisida organoklorin,
Abstract
Rice straw (Oryza sativa) is an agricultural by-product widely used as ruminant feed and contain persistent organochlorine pesticide residues that pose risks to animal health and food safety. This study aimed to evaluate the effect of natural drying duration on the reduction of organochlorine pesticide residues in rice straw. A Completely Randomized Design (CRD) with four drying durations was applied: no drying (P0), 6 hours (P1), 12 hours (P2), and 18 hours (P3), with five replications each. Parameters observed included moisture content, dry matter, and residues of aldrin, Dichloro-Diphenyl-Trichloroethane (DDT), endosulfan, endrin, and heptachlor analyzed using the QuEChERS method and Gas Chromatography–Mass Spectrometry (GC-MS). The results showed that drying duration significantly affected (P<0.05) the reduction of all analyzed organochlorine pesticide residues. The 18-hour drying treatment (P3) showed the highest reduction effectiveness, with several compounds
Keywords: Animal feed, GC-MS, Natural drying, Organochlorine pesticides, Rice straw,
PENDAHULUAN
Jerami padi merupakan residu pertanian yang dihasilkan dalam jumlah besar setiap musim panen dan berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber pakan ternak ruminansia. Pemanfaatan jerami padi sebagai pakan ternak memberikan keuntungan ekonomis, terutama bagi peternak skala kecil, karena ketersediaannya melimpah dan biaya pengadaannya relatif rendah. Namun demikian, jerami padi juga berpotensi mengandung residu pestisida akibat penggunaan bahan kimia pertanian selama proses budidaya tanaman padi.
Pestisida golongan organoklorin, seperti aldrin, Dichloro-Diphenyl-Trichloroethane (DDT), endosulfan, endrin, dan heptachlor, dikenal bersifat persisten, lipofilik, dan cenderung terakumulasi dalam jaringan organisme hidup. Meskipun penggunaannya telah dilarang, residu pestisida organoklorin masih dapat ditemukan di lingkungan akibat persistensinya yang tinggi. Keberadaan residu ini pada bahan pakan berpotensi menimbulkan risiko kesehatan bagi ternak dan dapat tertransfer ke produk hewani seperti daging dan susu, sehingga menjadi isu penting dalam sistem keamanan pangan.
Berbagai penelitian terdahulu telah melaporkan keberadaan residu pestisida organoklorin pada komoditas pertanian dan bahan pakan akibat penggunaan pestisida yang intensif serta sifat persistensi senyawa tersebut di lingkungan. Turusov et al. (2002) dan ATSDR (2022) menjelaskan bahwa pestisida organoklorin bersifat lipofilik, stabil secara kimia, dan mampu bertahan dalam matriks biologis dalam jangka waktu lama. Selain itu, Katagi (2004) menyatakan bahwa proses pascapanen, seperti pengeringan dan paparan sinar matahari, dapat memengaruhi laju degradasi residu pestisida melalui mekanisme volatilisasi, fotodegradasi, dan degradasi termal. Racke (1993) juga menegaskan bahwa faktor lingkungan pascapanen berperan penting dalam menentukan tingkat residu akhir pestisida pada produk pertanian. Namun, kajian mengenai efektivitas perlakuan pascapanen sederhana terhadap penurunan residu pestisida pada bahan pakan ternak, khususnya jerami padi, masih relatif terbatas. Selain itu, sebagian besar penelitian degradasi pestisida dilakukan dalam kondisi terkontrol laboratorium atau menggunakan metode perlakuan kompleks yang sulit diterapkan oleh peternak di lapangan.
Penelitian ini tidak hanya mengkaji aspek penurunan residu, tetapi juga mengaitkannya dengan perubahan kadar air dan bahan kering jerami sebagai faktor kunci yang memengaruhi mekanisme degradasi pestisida. Setelah itu dilakukan evaluasi efektivitas pengeringan alami terhadap residu pestisida pada bahan pakan dengan pendekatan eksperimen kuantitatif. Dengan demikian, penelitian ini dapat memberikan kontribusi ilmiah berupa bukti bahwa praktik pengeringan alami yang lazim dilakukan peternak dapat berperan signifikan dalam meningkatkan keamanan pakan ternak dan mengurangi potensi risiko kontaminasi rantai pangan.
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Balai Besar Veteriner Wates antara bulan Agustus-Oktober 2025 dan dikerjakan sesuai prosedur keamanan penanganan bahan kimia yang berlaku dengan penggunaan alat pelindung diri (APD) yang sesuai. Bahan utama yang digunakan adalah jerami padi (Oryza sativa) segar sebanyak 2 kg. Setelah dibersihkan, sampel dipotong (~5 cm) kemudian dengan teknik spike (penambahan larutan standar secara sengaja) dengan cara penyemprotan larutan standar pestisida (EPA CLP Organochlorine Pesticide Mix, CRM47426, brand Supelco, Jerman) yang mengandung aldrin, DDT, endosulfan, endrin, dan heptaklor dalam asetonitril sampai homogen. Konsentrasi penambahan (spiking) ditetapkan pada 30x batas deteksi tertinggi yang ditentukan di laboratorium (ASTM D 4327-03) dengan konsentrasi target kerja 2 ppm.
Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), pada sampel jerami yang sudah disemprot (spike) dengan standar pestisida organoklorin dibagi dalam 4 (empat) kelompok perlakuan waktu pengeringan, yaitu P0 (tanpa pengeringan), P1 (6 jam), P2 (12 jam), dan P3 (18 jam), masing-masing dengan 5 (lima) ulangan. Pengeringan dilakukan secara alami dengan memanfaatkan sinar matahari langsung pada pukul 09.00–15.00 WIB per siklus perlakuan. Parameter lingkungan seperti suhu, kelembapan, dan intensitas cahaya diukur untuk memastikan kondisi relatif seragam antar perlakuan. Analisis residu pestisida organoklorin dilakukan menggunakan metode ekstraksi Quick, Easy, Cheap, Effective, Rugged, and Safe (QuEChERS) dan dianalisis dengan GC-MS (merk Shimadzu, type QP2010). Metode analisis divalidasi sesuai dengan kriteria kinerja meliputi linearitas, recovery, presisi, dan evaluasi LOQ. Berdasarkan validasi metode pengujian pestisida di laboratorium Kesmavet, hasil recovery yang diperoleh berkisar antara 97-102%, LOD antara 0,017-0,03 ppm, LOQ 0,056-0,105 ppm, dan %RSD 3,0-9,8% untuk setiap bahan aktif yang diuji (Lestari et al, 2015).
Data yang diperoleh dianalisis secara statistik menggunakan uji analisis varians (ANOVA) pada taraf signifikansi 5%. Apabila terdapat perbedaan nyata, analisis dilanjutkan dengan uji Tukey HSD untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama pengeringan jerami padi berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kadar air dan bahan kering. Angka persentase kadar air dan bahan kering dan jenis pestisida ditunjukkan pada tabel 1.
Tabel 1. Hasil pengujian rata-rata sampel penelitian
|
NO |
PERLAKUAN |
KA (%) |
BK (%) |
ALDRIN (ppm) |
DDT (ppm) |
ENDOSULFAN (ppm) |
ENDRIN (ppm) |
HEPTACHLOR (ppm) |
|
1 |
P0 |
65.12a |
34.88a |
3.94a |
3.76a |
3.11a |
1.10a |
3.77a |
|
2 |
P1 |
57.22b |
42.78b |
2.39b |
1.35b |
0.43b |
0.73b |
2.46b |
|
3 |
P2 |
37.15c |
62.85c |
0.40c |
0.68c |
0.00c |
0.14c |
0.95c |
|
4 |
P3 |
31.64d |
68.36d |
0.00c |
0.00d |
0.00c |
0.00c |
0.12d |
Keterangan:
· KA: Kadar Air, BK: Bahan Kering dalam satuan %.
· ppm: part per million atau mg/kg, atau ug/g.
· Nilai 0.00 ppm tidak menunjukkan konsentrasi absolut nol, tetapi berada di bawah batas kuantifikasi metode analitik (LOQ).
· P0: Tanpa pengeringan, P1: Pengeringan 6 jam, P2: Pengeringan 12 jam, P3: Pengeringan 18 jam.
· (a,b,c,d) Superskrip huruf yang berbeda pada setiap kolom menunjukkan perbedaan nyata (P< 0,05).
Berdasarkan table 1 dapat diketahui bahwa penurunan kadar air terjadi secara konsisten seiring dengan bertambahnya durasi pengeringan, yang diikuti oleh peningkatan kadar bahan kering. Pola ini mencerminkan efektivitas proses pengeringan alami dalam mengurangi air bebas dan air terikat pada matriks jerami. Secara teoritis, semakin lama proses pengeringan, semakin besar jumlah air yang diuapkan dari bahan, sehingga fraksi padatan relatif meningkat (Mujumdar, 2014; Tańska et al., 2016).
Penurunan kadar air selama pengeringan memiliki implikasi penting terhadap dinamika residu pestisida. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi penurunan yang signifikan (P<0,05) kadar pestisida organoklorin dengan bahan aktif aldrin, DDT, endosulfan, endrin, dan heptachlor mengikuti pola penurunan kadar air jerami. Perlakuan tanpa pengeringan (P0) menunjukkan kadar residu tertinggi, sedangkan peningkatan durasi pengeringan hingga 18 jam (P3) menghasilkan penurunan residu paling signifikan, bahkan beberapa senyawa tidak lagi terdeteksi (<LOQ). Kondisi ini mengindikasikan bahwa kadar air berperan sebagai faktor pembatas dalam proses pelepasan dan degradasi residu pestisida dari matriks jaringan tanaman.
Secara mekanistik, penurunan residu pestisida organoklorin selama pengeringan alami diduga terjadi melalui kombinasi beberapa proses fisikokimia. Racke (1993) menyatakan bahwa proses pengeringan dapat menurunkan residu pestisida melalui volatilisasi senyawa yang mudah menguap, fotodegradasi akibat paparan cahaya matahari, serta degradasi termal yang dipercepat oleh peningkatan suhu. Penurunan kadar air jerami menyebabkan melemahnya ikatan residu pestisida dengan jaringan tanaman, sehingga residu lebih mudah terlepas dan mengalami proses degradasi lebih lanjut.