MONITORING IBR

Rabu, 07 Oktober 2015 13:42:18 | dibaca : 438 kali
monitoring_ibr

Buletin Laboratorium Veteriner Vol. 15 Nomer 2 Edisi : April-Juni 2015, Artikel 3

MONITORING PENYAKIT INFECTIOUS BOVINE RHINOTRACHEITIS (IBR) PADA SAPI SEBAGAI PENDUKUNG KEBERHASILAN PROGRAM SWASEMBADA DAGING SAPI DAN KERBAU TAHUN 2014

Penulis Artikel : Sri Handayani Irianingsih (yanibiotech@gmail.com), Desi Puspita Sari, Hendra Wibawa, Muhammad Afdhal Darul, Didik Arif Zubaidi dan Rina Astuti Rahayu

 

INTISARI

Dalam mensukseskan program swasembada daging sapi dan kerbau (PSDSK) tahun 2014 diperlukan surveilans penyakit pada sapi dan pengendalian berbagai penyakit.Beberapa jenis penyakit hewan menular dapat mempengaruhi kesehatan reproduksi dan produktifitas sapi.Diantaranya yang disebabkan oleh agen penyakit viral yaitu Infectious Bovine Rhinotracheitis (IBR).Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengetahui tingkat seroprevalensi penyakit IBR pada sapi potong di wilayah kerja Balai Besar Veteriner Wates , mengetahui informasi penyebaran penyakit IBR tahun 2014 di wilayah kerja Balai Besar Veteriner Wates, mengetahui tingkat kejadian penyakit IBR pada sapi potong berdasarkan ditemukannya agen viral penyakit IBR. Kegiatan monitoring dilakukan di 9 kabupaten di 3 provinsi wilayah kerja Balai Besar Veteriner Wates sejak bulan Maret sampai dengan November 2014. Sebanyak 1.554 sampel darah sapi potong telah dikoleksi untuk dilakukan pengujian kadar antibodi terhadap IBR menggunakan uji ELISA (Enzyme Linked Immunosorbent Assay) antibody dan 1.554 sampel swab nasal dilakukan isolasi virus meng-gunakan cell line MDBK. Hasil pengujian serologi terhadap antibodi IBR sapi potong di 9 kabupaten, 21 kecamatan dan 732 peternak yang dimonitoring menunjukkan positif antibody sebanyak 281 dari 1.554 sampel serum sedangkan pengujian isolasivirus IBR terhadap 1.554 sampel swab nasal menunjukkan hasil negatif. Sapi potong PO sebesar 56,23% menunjukkan seropositive IBR dan 88,61% dari total sampel berjenis kelamin betina serta 88,97% adalah umur dewasa. Persentase pembelian ternak di pasar menunjukkan tingkat seropositive IBR sebesar 93,18% sehingga diduga faktor ini saling berasosiasi. Berdasarkan hasil-hasil monitoring ini dapat diambil simpulan bahwa tingkat prevalensi seropositive IBR sebesar 18% (281/1.554) dan kejadian lebih banyak pada sapi PO yang berasal dari pembelian di pasar. Namun demikian angka prevalensi ini menunjukkan penurunan 2% dibandingkan tahun 2013. Adanya seropositive IBR di setiap kabupaten yang disurvei menggambarkan bahwa penyakit IBR telah tersebar dari tahun ke tahun di wilayah kerja Balai Besar Veteriner Wates akan tetapi tidak menunjukkan gejala klinis dan tidak ditemukan adanya shedding virus dari ternak sapi saat disurvei. Kebijakan pengendalian penyakit IBR sangat diperlukan untuk menentukan bagaimana tindakan tepat yang harus dilakukan. Kekuatan hubungan antara faktor penyakit dan jenis penyakit serta kerugian ekonomis yang ditimbulkan oleh penyakit IBR di daerah tropis sebaiknya dikaji secara mendalam sehingga mampu menjadi landasan yang kuat suatu kebijakan.

Kata Kunci: Infectious Bovine Rhinotracheitis, Enzyme Linked Immunosorbent Assay, prevalensi, seropositif.

 

Apabila menginginkan "Full Paper", dipersilahkan men-download artikel dibawah ini :


Buletin Laboratorium Veteriner Vol. 15 Nomer 2 Edisi 2015 (Artikel 3)