AVIAN INFLUENZA SUBTIPE H5 PADA ITIK

Sabtu, 19 September 2015 22:15:09 | dibaca : 543 kali
avian_influenza_subtipe_h5_pada_itik

Buletin Laboratorium Veteriner Vol. 14 Nomer 2 Edisi : April-Juni 2014 Artikel 3

SURVEI PENYAKIT AVIAN INFLUENZA SUBTIPE H5 DI PROVINSI JAWA TENGAH, JAWA TIMUR DAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA, MARET 2013 - FEBRUARI 2014

Penulis Artikel : Hendra Wibawa (hendra.wibawa@pertanian.go.id), Lestari, Herdiyanto Mulyawan dan Ira Pramastuti

 

ABSTRAK

Introduksi virus Avian Influenza (AI) subtipe H5N1 baru (Clade 2.3.2.1) pada pertengahan tahun 2012 telah menimbulkan wabah penyakit highly pahogenic avian influenza (HPAI) yang disertai morbiditas dan mortalitas yang tinggi pada unggas, khususnya itik. Namun, aras infeksi virus ini, pada itik dan unggas lain belum banyak diketahui. Artikel ini berisi tulisan tentang surveilan virus AI subtipe H5 (termasuk Clade 2.3.2.1) di Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur dan DIY dari Maret 2013 sampai Februari 2014. Teknik kombinasi sampling kesebandingan populasi (probability proportional to size sampling atau PPS) dengan sampling acak berjenjang (stratified random sampling) dan cluster sampling digunakan dalam surveilan penyakit AI pada itik. Sebanyak 1513 dari 1574 ekor itik (96.1%) tidak memiliki riwayat vaksinasi AI dan hanya sekitar 61 ekor itik (3.9%) tercatat telah tervaksinasi AI. Dari 1513 ekor itik yang tidak tervaksinasi dengan vaksin AI, 336 ekor itik (22.2%) terdeteksi memiliki titer antibodi tinggi(titer hemaglutination inhibition, HI >16). Seroprevalensi AI subtipe H5 bervariasi (0-33%) antara kabupaten satu dengan kabupaten lainnya. Berdasarkan data umur itik yang belum tervaksinasi AI, odd ratio itik dewasa dengan titer HI antibodi tinggi (>16) adalah 2.9X (95% CI: 1.96-4.18) lebih tinggi dibanding itik muda. Viral prevalensi berdasarkan deteksi RNA virus AI menunjukkan bahwa prevalensi virus AI subtipe H5 dari hasil surveilans lebih kecil (3.2%, 50 dari 1574 ekor positif subtipe H5) dibanding viral-prevalensi yang diperoleh dari hasil investigasi dan tindak lanjut kasus AI (58.8%, 127 dari 216 ekor positif subtipe H5). Namun jika kedua data surveilan lapangan dan investigasi kasus digabungkan, viral prevalensi meningkat menjadi 9.9%, dengan prevalensi virus H5 Clade 2.3.2.1 32X lebih tinggi dibanding prevalensi Clade 2.1.3 (9.6% dibanding 0.3%). Beberapa faktor resiko antara lain tipe pemeliharaan itik, riwayat kontak dengan unggas/spesies lain, dan aspek-aspek biosekuriti sedang dalam dalam proses pengkajian terhadap kemungkinan penularan dan penyebaran virus AI subtipe H5.

 

Bila membutuhkan “Full Paper” lengkap, silahkan download artikel dibawah ini :


Buletin Laboratorium Veteriner Vol. 14 Nomer 2 Tahun 2014 (artikel 3)