AVIAN INFLUENZA SUBTIPE H5

Sabtu, 19 September 2015 12:53:10 | dibaca : 368 kali
avian_influenza_subtipe_h5

 

Buletin Laboratorium Veteriner Vol. 15 Nomor 1 Edisi : Januari-Maret 2015 Artikel 2

AVIAN INFLUENZA SUBTIPE H5: ARAS INFEKSI PENYAKIT DAN FAKTOR-FAKTOR YANG BERESIKO DALAM PENULARAN VIRUS H5 PADA  ITIK  DI JAWA TIMUR,JAWA TENGAH DAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TAHUN 2014

Penulis Artikel : Hendra Wibawa (hendra.wibawa@pertanian.go.id), Lestari, Herdiyanto Mulyawan dan Ira Pramastuti

 

ABSTRAK

Meskipun sejak akhir tahun 2012 virus yang dominan ditemukan pada unggas di Indonesia adalah H5N1 Clade 2.1.3 dan Clade 2.3.2, itik lebih beresiko menderita infeksi akut, ganas dan menular akibat infeksi virus Clade 2.3.2. Pada tahun 2013, BBVET Wates telah melaksanakan surveilanspenyakit avian influenza (AI) pada itik, namununtuk memperoleh gambaran epidemiologi AI pada itik sangat diperlukan data yang berkesinambungan. Tulisan ini berisi tentang hasil surveilanspenyakit AI subtipe H5 di Propinsi Jawa Timur,Jawa Tengah, dan Darah Istimewa Yogyakarta (DIY)pada tahun 2014. Teknik kombinasi sampling kesebandingan populasi (probability proportional to size sampling atau PPS) dengan sampling acak berjenjang (stratified random sampling) dan cluster sampling digunakan dalam surveilan penyakit AI pada itik tahun 2014.

Hasil surveilans AI pada itik tidak tervaksinasi AI menunjukkan bahwa perkiraan aras infeksi virus AI subtipe H5 (viral-prevalence) pada itik sepanjang tahun 2014 adalah 5.4% atau lebih tinggi dibanding aras infeksi yang diperoleh dari surveilans AI pada itik tahun 2013 (3.2%). Demikian juga perkiraan angka sero-prevalence yang juga meningkat dari 22.2% pada tahun 2013 menjadi 32.4% di tahun 2014. Antibodi dan viral RNA Clade 2.3.2 terdeteksi 5X lebih tinggi dibanding antibodi dan viral RNA Clade 2.1.3. Hasil ini mengindikasikan bahwa, pada itik, paparan infeksi virus AI subtipe H5 Clade 2.3.2 jauh lebih tinggi dibanding dengan paparan dan infeksi virus Clade 2.1.3. Kecuali prevalensi virus pada level unggas (bird-level viroprevalence), perkiraan prevalensi antibodi dan virus AI subtipe H5 pada level peternak/farm (farm-level prevalence) maupun hewan/itik (bird-level prevalence) di Jawa Tengah dan DIY lebih tinggi dibandingkan perkiraan prevalensi antibodi dan virus H5 di Jawa Timur, dimana hal ini mungkin berkaitan dengan adanya beberapa perbedaan cara beternak dan lemahnya praktek biosekuriti yang dilakukan.

Tingkat pengetahuan peternak tentang cirri-ciri atau gejala klinis AI pada itik ternyata tidak selalu berkorelasi dengan pemahaman peternak tentang cara beternak yang baik memperhatikan aspek-aspek biosekuriti untuk mencegah terjadinya penularan virus AI. Berdasarkan data yang diperoleh (hasil pengujian sampel, analisis data dan pengolahan kuisoner), praktek pemeliharaan angon/boro, seringnya jual beli unggas hidup dan produknya di pasar unggas hidup, percampuran lebih dari spesies atau lebih dari satu umur dalam satu kandang/flok, tidak adanya masa karantina bagi unggas baru yang dibeli, lemahnya pengawasan lalu lintas orang dan barang dari dan ke dalam kandang, ketiadaan atau kurangnya desinfeksi kandang, serta kebiasaan mempertahankan itik/unggas sekandang yang sakit dan/atau telah sembuh kembali memiliki potensi resiko dalam penularan virus pada itik  yang tidak memiliki kekebalan dapatan (unvaccinated-naïve ducks).

Kata Kunci: Avian Influenza, H5N1, clade, desain sampling, prevalensi, faktor resiko 

 

Bila membutuhkan “Full Paper” lengkap, silahkan download artikel dibawah ini :


Buletin Laboratorium Veteriner Vol. 15 Nomor 1 Tahun 2015 (artikel 2)