AVIAN INFLUENZA PENYEBAB KEMATIAN PADA ITIK

Minggu, 20 September 2015 15:33:36 | dibaca : 479 kali
avian_influenza_penyebab_kematian_pada_itik

Buletin Laboratorium Veteriner Vol. 14 Nomer 4 Edisi : Oktober-Desember 2014 Artikel 2

AVIAN INFLUENZA H5 CLADE 2.3.2 PENYEBAB KASUS KEMATIAN ITIK DI AJIBARANG DAN PEKUNCEN, KABUPATEN BANYUMAS PADA BULAN OKTOBER 2014 

Penulis Artikel : Sri Handayani Irianingsih (yanibiotech@gmail.com), Hendra Wibawa, Walujo Budi PrijonoRina Astuti Rahayu dan Widwianingsih

 

ABSTRAK

Pada peralihan musim di Indonesia, dari kemarau ke penghujan atau sebaliknya, biasanya mempengaruhi daya tahan tubuh hewan. Bulan Oktober diperkirakan memasuki musim penghujan dan beberapa wilayah telah mengalami hujan disertai dengan meningkatnya laporan kasus kematian pada unggas, termasuk di Kabupaten Banyumas. Awal Oktober 2014 di Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas dilaporkan adanya kasus kematian mendadak pada itik boro (angon) sebanyak 250 ekor dari populasi 350 ekor. Tim penyidik Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates menindaklanjuti kasus yang terjadi di lapangan pada tanggal 10-11 Oktober 2014. Penyidikan dilakukan dengan mengumpulkan data kasus kematian itik dan kondisi lapangan, yaitu di Ciroyom, Desa Cikembulan, Kecamatan Pekuncen, dan di Kedompon, Desa Lesmana,Kec.Ajibarang,Kabupaten Banyumas. Hasil wawancara dengan peternak diketahui bahwa dari awal September hingga awal Oktober telah terjadi kematian pada itik sekitar 928 ekor dari populasi 1.685 ekor. Rata-rata peternak memelihara itiknya dengan sistem boro, hal ini mempunyai resiko penyebaran dan penularan penyakit yang cukup tinggi. Selain itu, kebiasaan peternak membeli dan menjual itik yang sakit kepada pedagang mempunyai resiko penyebaran penyakit sangat tinggi dan penularan penyakit yang semakin tidak terkendali.Pengambilan spesimen juga dilakukan untuk peneguhan diagnosa penyakit berupa 13 sampel itik utuh (mati dan sakit), 16 swab oropharyngeal dan swab kloaka, 3 bulu, dan 9 serum, serta 3 swab lingkungan untuk pengujian bedah bangkai, isolasi virus, deteksi molekular, uji serologi dan karakterisasi antigen. Hasil pemeriksaan bedah bangkai (makroskopis) dan uji histopatologi (mikroskopis) menunjukkan adanya gambaran nonsuppurativa encephalitis. Uji serologi menunjukkan bahwa rerata titer antibodi terhadap AI clade 2.3.2 lebih tinggi dibandingkan AI 2.1.3 serta menunjukkan adanya titer antibodi terhadap Newcastle Disease (ND). Begitu juga dengan uji isolasi virus dan uji deteksi molekular memberikan hasil positif Avian Influenza H5 (clade 2.3.2). Hal ini menunjukkan indikasi kuat bahwa penyebab kematian itik muda di Kec. Pekuncen dan Kec. Ajibarang adalah virus Avian Influenza tipe ganas (HPAI) dengan subtipe H5 clade 2.3.2.

Kata Kunci: kematian itik, penyidikan, diagnosa, avian influenza

 

Bila membutuhkan “Full Paper” lengkap, silahkan download artikel dibawah ini :


Buletin Laboratorium Veteriner Vol. 14 Nomer 4 Tahun 2014 (artikel 2)