KOORDINASI ZOONOSIS DISEASE ACTION PACKAGE GHSA

Kamis, 19 September 2019 11:36:57 | dibaca : 15 kali
koordinasi_zoonosis_disease_action_package_ghsa1568908745

KOORDINASI ZOONOSIS DISEASE ACTION PACKAGE GHSA

KOORDINASI LINTAS SEKTORAL DALAM MENGHADAPI PENYAKIT ZOONOSIS

 


Prof.dr M.Hussein Gasem, Sp.PD-KPTI dari RS Kariadi Semarang, sebagai salah satu Narasumber memberikan pencerahan berupa fakta dan data bahwa kemungkinan Leptospirosis merupakan penyakit dengan ancaman seperti teori gunung es, karena yang sering terjadi adalah misdiagnosa, underreport yang maksudnya bahwa gejala leptospirosis sering sama dengan penyakt pada umumnya, sehingga sering tidak terlaporkan.Depok: 19 Sept 2019. Pertemuan koordinasi lintas sektoral yang diadakan setiap tahun ini berlangsung pada tanggal 17 sampai dengan 20 September 2019 di The Margo Hotel Kota Depok Jawa Barat. Kementerian Kesehatan sebagai pemrakarsa  mengundang 120 peserta dari berbagai sektor terkait penyakit zoonosis. Pertemuan dan koordinasi ini pada dasarnya adalah kegiatan untuk memenuhi amanat Inpres No 4 tahun 2019 mengenai Peningkatan Kemampuan Dalam Mencegah, Mendeteksi, Dan Merespons Wabah Penyakit, Pandemi Global, Dan Kedaruratan Nuklir, Biologi, Dan Kimia. Permasalahan koordinasi lintas sektoral, pendanaan, tanggungjawab serta tindak lanjut menjadi pembahasan utama dalam pertemuan ini. Narasumber juga berasal dari berbagai sektor terkait dengan penyakit zoonosis terutama adalah Rabies dan Leptospirosis.

Dr Asep Purnama, praktisi di RS. Tjark Corrneille Hillers, Maumere Nussatenggara Timur memberikan gambaran tentang masih besarnya ancaman Rabies bagi bangsa Indonesia, sedangkan pemateri dari Kementerian Pertanian drh Poedjiatmoko,Phd menyampaikan Roadmap pemberantasan Rabies yang bisa menjadi salah satu acuan dalam membuat rencana tindaklanjut yang dapat diaplikasikan di semua provinsi. Dalam pertemuan ini juga diperkenalkan penggunaan aplikasi terintegrasi dari berbagai aplikasi lintas sektoral antara Kementan, Kemenkes dan BKSDA berupa aplikasi SIZE yang sedang diujicobakan di 4 Wilayah di Indonesia.

 Pertemuan ini diikuti tiga unsur utama dalam penanggulangan Zoonosis yaitu Kenterian Kesehatan Masyarakat, Kementerian Pertanian dan Dinas yang membidangi Peternakan dari tiap provinsi, serta Badan Konservasi Satwa dan Alam yang terkait dengan hewan liar.

Dalam pertemuan yang juga mengundang perwakilan Balai Besar Veteriner dan Balai veteriner ini, BBVet Wates diwakili drh Basuki Rochmat , yang sekaligus melakukan koordinasi dengan perwakilan dari dinas provinsi Jawa Tengah,Jawa Timur dan DI Yogyakarta yang merupakan wilayah kerja BBVet Wates.

Akhir dari pertemuan ini menghasikan suatu rumusan yang akan ditindaklanjuti secara bersama dan terkoordinir. (IBAS)